Laman

Hadirilah !! Pengajian Rutin Majelis Nurul Habib Saw yang di asuh oleh Habib Syafiq bin Syekh Abu Bakar bin Salim, Setiap Minggu ke 2 & ke 4 ditiap bulannya Pukul 20.00 Wib di Masjid Miftahul Iman Gg.Chement Kembangan Utara Jakarta Barat. - - - Hadirilah !! Pengajian Rutin Majelis Nurul Abror yang diasuh oleh KH.Ahmad Syukron, Setiap Malam Minggu Pukul 20.00 Wib di Musholah Nurul Abror "Depan KUA Kembangan Utara" Jakarta Barat

Ahlan wa Sahlan wa Marhaban di Syiar Majelis - - - Contact Me : Syiarmajelis@gmail.com - - - TUNJUKKAN KEPERDULIANMU DAN BAKTIMU PADA PEMBENAHAN ISLAM DENGAN TURUT MENYUMBANGKAN HARTAMU SEBAGAI SAKSI, BANTUANMU ADALAH CERMIN KADAR IMANMU, RASULULLAH SAW BERSABDA : SETIAP HARI TURUN DUA MALAIKAT MULIA KE BUMI DAN BERDOA, WAHAI ALLAH BERI ORANG YANG BERINFAQ KESEJAHTERAAN, DAN BERI ORANG KIKIR KEHANCURAN ( SHAHIH BUKHORI ) Bank Syariah Mandiri a. n Munzir Al Musawa No. Rek 061-7121-494 ( Cabang Depok ) Atau Di Titipkan Kepada Sdr. Muhammad Qalby, H. Syukron Makmun Dan Sdri. Aisyah Najmatunnisa - - - GUNAKAN HELM UNTUK KESELAMATAN DAN NAMA BAIK MAJELIS KITA - - - Syukron Atas Kunjungannya, Jangan Lupa Balik Lagi Yaa .^_^

Sahabat Syiar Majelis, Dengan Mengklik Tombol Like Dan Share Disetiap Artikel Yang Sahabat Syiar Majelis Baca, Maka Sahabat Syiar Majelis Turut Membantu Menyebarkan Dakwah Nabi Muhammad Saw, Mari Kita Buat Gembira Hati Rasulullah SAW :), Bagi Sahabat Syiar Majelis Yang Sudah Klik Like Dan Share Ane Ucapkan Terima Kasih, Semoga Sahabat Syiar Majelis Mendapat Pahala Yang Sama Seperti Orang Yang Berdakwah, Amin Allahuma Amin..

Sabtu, 18 Februari 2012

Detik - Detik Wafatnya Rasulullah Saw

syiarmajelis.blogspot.com - Syiar majelis kali ini akan posting tentang kisah Detik - Detik Wafatnya Rasulullah Saw. Insya Allah setelah membaca artikel ini kita semua akan semakain cinta kepada idola kita semua Sayyidina Muhammad Saw.


















Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Rasulullah Saw dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya, Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya.

Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya.Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu.

Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.

Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" 

"Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. 

Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah Saw. Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah? "Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
 
Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,"kata jibril.

Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar kabar ini? "Tanya Jibril lagi.
"Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"

"Jangan khawatir, wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas.
Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka.

"Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril? "Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.  

"Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi.

"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. " Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya, "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu."

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.

Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan, "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya? Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa baarik wasalim 'alaihi.

Betapa Cintanya Rasulullah kepada kita. Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencinta kita. Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.

Silahkan Beri Komentar Dengan Bahasa Yang Baik Dan Sopan

Ane tidak online 24 Jam dan hanya sendiri mengurus blog ini, mohon maaf bila komentar Sahabat Majelis tidak di balas.

Buat Sahabat Majelis yang suka dengan artikel saya, silahkan Sahabat Majelis share di mana saja Sahabat Majelis suka (blog, facebook, twitter dll). Namun, bila berkenan mohon cantumkan link sumber dari artikel yang Sahabat Majelis share (copy/paste). Mari kita bantu dakwah Nabi Muhammad Saw, dengan berbagi informasi yang bermanfaat. Terima kasih,,

Baca Juga Artikel Menarik Lainnya :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

DAFTAR ISI | SYIAR MAJELIS